TIDAK JADI MAMPIR
Tak terasa sudah empat hari aku menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan kali ini. Terasa nikmat sekali bisa menemui kembali bulan penuh berkah ini. Aku sudah bertekad untuk menunaikan hingga hari kemenangan tibah nanti. Hari ini aku ingin sekali berbuka puasa bersama dengan teman-temanku.
“ben, ayo ntar kita buka bersama di warungnya adi?” ajakku ke beny teman SMU ku dulu
Lama hp ini tak bergetar dan tak ada balasan dari si beny, kuputusakan sms si Andy
“An, ntar ke warungya adi yuk, lagi pengen buka bersama nih”
Kembali tak ada sedikitpun balasan dari mereka. Aku tidur dan merebahkan tubuh ini di kursi kerjaku didalam ruang kaca yang dingin karena AC nya kencang sekali hari ini. Udara di luar sangat panas sehingga aku putuskan untuk membesarkan pendingan udara yang katanya bisa menyedot seluruh kuman dan virus diruangan ini.
Hihihihi tertawa sendiri mengelitik seluruh dadaku.
Beberapa menit kemudian bunyi ringtone hp ku , ada sms masuk, ternyata dari mereka berdua.
“siap bos” jawab Beny singkat, sepertinya dia sedang kerja dan sibuk.
“Ok bos” jawab si Andi, si ganteng satu ini pasti sangat antusias sekali untuk acara kumpul-kumpul begini.
Ku lirik jam dinding yang tergantung di sudut ruang kerjaku.
Entah kenapa kok rasanya lama sekali si jam itu berputar, apa dia tidak tahu aku ingin cepat pulang dan bertemu dengan teman-teman SMU ku itu. Kami sejak dulu satu Gank begitu anak-anak SMU jaman sekarang mengatakan.
Suara adzan Ashar telah kudengar, segera ku ke mushola yang berada di lantai tiga gedung ini.
Ak ambil air wudlu dan bersimpuh ke hadapannya, seketika hati ini tenang dan damai setelah dari tadi hatiku berkecamuk karena rindu dengan ketiga sahabat ku itu.
Oh… akhirnya sudah jam pulang kerja. Kebetulan warung si adi tidak begitu jauh dari tempatku bekerja.
Segera aku tancap gas agar segera sampai, kenapa sore ini jalan ini macet sekali seperti ada demo saja. Padahal setiap aku lewat sini, tak pernah sekalipun macet di sini, seribu Tanya menyambarku.
Oh tidak mungkin ternyata ada orang sedang bergerombol di dekat warung si adi, semakin aku berpikir aneh-aneh. Ada apa dengan warung salah satu sahabtku itu, apa warungnya kena rasia? Rasanya tidak, kan dia hanya jualan nasi goreng. Hari semakin senja aku sampai juga di depan warungnya, Oh my GOD sunggung pemandangan yang kurang baik di dalam awal bulan Ramadhan kali ini, ternyata ada orang gantung diri “kendat” dia atas tiang Listrik atau PJU yang tepat berada di samping warung si Adi. Alhasil warungnya harus ditutp karena para polisi segera mengevaluasi mayat laki-laki yang kalau tidak salah namanya Jum’at itu.
“Oh orang edan, hidup enak kok malah kendat” pikirku dalam hati.
Alhasil kami tidak jadi mampir ke warungnya adi , karena warungnya di tutup dan adi pun harus ke kantor polisi untuk dimintai keterangan seputar kejadian itu, meskipun menurutku dia tidak ada hubungan sama sekali dengan kendatnya orang itu. Hanya saja karena warungnya dekat dengan tkp maka dia harus menjadi saksi dan diperiksa.
Ya begitulah ribet deh kalau berurusan dengan polisi-polisi itu.
Jadinya kami bertiga pulang dan berbuka dirumah masing-masing karena tidak jadi mampir makan nasi goreng di warung adi.
dita arswenda
